Minggu, 03 Februari 2013

how a great day!


Hari Ini Aku Bahagia.
Semua orang tidak luput dari masalah. Selama kita masih bernafas, kita kan menghadapi banyak rintangan. Hidup ini bagai roda yang berputar. Berada di bawah adalah masa-masa penderitaan. Harus bersentuhan dengan tanah, tergores aspal, melewati kerikil-kerikil yang tajam. Tapi roda itu harus tetap berputar untuk sampai tujuan.

Seperti itulah kehidupan kita. Untuk bisa melanjutkan roda kehidupan, kita harus bisa melewati berbagai macam penderitaan. Semua masalah-masalah yang ada itu seperti pisau yang ujungnya begitu lancip, menusuk-nusuk semua semangat dan harapan hidup kita. Rasa sakit itu membuat kita terus meratap dan membuat kita berhenti di suatu "tempat" sehingga tidak dapat melanjutkan perjalanan hidup.

Hei, sampai kapan kita akan terus meratapi semua penderitaan itu? Apakah ratapanmu dapat mengubah hidupmu? Apa sakit hatimu bisa mengubah semua keadaan sesuai dengan yang kau inginkan? Ratapan dan penyesalan tidak akan dapat mengubah apapun. Yang ada adalah kita akan mengalami kerugian yang sangat besar. Hidup ini bukan untuk bersedih, hidup ini adalah untuk mengejar impian.

Bila kesedihan itu Tuhan ijinkan untuk mampir dalam hidup kita, terima saja, tetapi kita tidak boleh bersedih terlalu lama. Tidak boleh menyesali terlalu lama. Kesedihan itu Tuhan ijinkan mampir dalam hidup kita adalah untuk mengajari kita bagaimana caranya bersyukur.

Tidak mudah rasanya bila kita harus tertawa di atas penderitaan. Tetapi kita bisa menikmati semua penderitaan itu dengan baik dan benar..

hidup bukan tentang menunggu badai berlalu,
tetapi tentang belajar menari di tengah hujan

Saya banyak belajar tentang kehidupan dari semua masalah yang pernah saya alami. Memang benar bahwa masalah merupakan proses pendewasaan diri. Semakin baik cara kita dalam mengatasi suatu masalah, maka semakin "dewasa" pula cara berpikir kita.

Ya, hari ini saya merasa sangat bahagia, dimana hari ini adalah minggu pertama dibulan yang baru. Beberapa hari yang lalu, Tuhan telah mengijinkan saja untuk mengalami suatu masalah, masalah yang membuat saya bersedih. Tapi dalam kesedihan itu, tak henti-hentinya mengucap syukur. Masalah itu membuat saya semakin dekat dengan Tuhan. Tidak mudah melewati badai itu. Bila aku harus menyerah, aku tidak akan menyerah pada keadaan, tapi aku akan berserah pada-Nya. Kadang aku terjatuh, tapi aku tetap bangkit lagi. Tidak ada seorang pun yang dapat membunuh semangatku. Tidak ada seorang pun yang dapat membinasakan harapan dan imanku.

Aku percaya bahwa Tuhan tidak akan memberi pencobaan melebihi kekuatan kita. Itu sudah terbukti. Aku mampu berdiri dengan kemenangan di atas semua masalah-masalah itu. Bersama Tuhan, aku adalah pemenang. Aku tidak punya alasan untuk bersedih hari ini, tetapi aku selalu punya alasan untuk selalu bersyukur. How great is our GOD!

Ketika kita bersedih, maka cobalah kita mulai menghitung semua berkat yang telah Tuhan berikan dalam hidupmu, maka kesedihanmu akan sirna. Tanggalkanlah semua bebanmu dan nikmatilah hari-harimu.

I just love you. No reason why.

Sabtu, 02 Februari 2013

Too much.

“Kamu menulis terlalu banyak tentangku. Too much.”


Kamu tahu, memori tidak bertahan lama jika dibiarkan begitu saja. Dibiarkan menguap kemudian hilang begitu saja. Kalau dia menguap kemudian berjalan ke angkasa membentuk awan kemudian turun menyerupai hujan, kalau tidak?






Ada terlalu banyak hal yang tidak kita harapkan seringkali kita alami. Bukan tak mungkin, kadang setiap hal yang tidak kita harapkan itu justru membuat kita berpikir, kemudian mengiyakan bahwa yang sebenarnya terjadi adalah memang yang terbaik yang diberikan pada kita.
Ingat yang kubilang tentang kita mengendalikan apa yang akan terjadi pada diri kita sendiri, namun kita tidak mengendalikan apa yang orang lain putuskan. Aku menyebutnya Relativitas. Tidak semua hal mampu ada dibawah kontrol kita kecuali diri kita sendiri. Itu pointnya.
Tuhan memberikan kita waktu untuk belajar, untuk mengerti tentang keadaan pengendalian diri. Dalam kasusku, memori yang benar-benar bekerja lebih giat dari semua alat pengendali diri yang ada.
Aku mengingat, merekam, menyimpan setiap memori tentang pembelajaran, tentang Relativitas, tentang segala sesuatu yang mampu kukendalikan, ataupun yang tak mampu kukendalikan, dalam tulisan. Sayangnya, terlalu banyak tentangmu. Terlalu banyak hal yang kupelajari darimu yang membuat memori itu seolah penuh, seolah tak mampu lagi menampung, dan kemudian harus dikeluarkan sebagian dalam tulisan.
Masih ingat tentang aku yang menceritakan bianglala, tentang pagi, tentang senja yang terekam manis dalam impuls-impuls milik memoriku? Ada terlalu banyak yang harus terekam disana. Dalam detail, dalam setiap inchi memorabilitas milikku, dan yang terbaik yang mampu kulakukan adalah untuk terus merekamnya dalam rangkaian kata yang mengimajinasikan setiap pembaca dalam kadar mereka masing-masing.

Aku menceritakan terlalu banyak tentangmu, dalam pikiranku.
Mereka menterjemahkanmu kemudian, sesuai dalam pikiran mereka masing-masing.

Dan ketika sebagian manusia mengatakan menulis hanya mengeluarkan apa yang menyebabkan otak menjadi terlalu penuh.
Bagiku, menulis adalah mengumpulkan memori, menyimpan rapat-rapat dalam kaca milik kata, namun tidak benar-benar akan membukanya.
Menulis adalah mengimajinasikan tentangmu dan setiap hal yang tak sesuai dengan kendaliku dalam rangkai kalimat. Dalam satu nafas yang tak putus untuk kemudian disambung memorabilitas yang lain.
Menyimpan setiap apa yang terlintas dalam memoarku ke dalam satu album ‘foto’ milikku sendiri, album ‘foto’ yang tidak benar-benar berisi ribuan gambar menarik, namun album ‘foto’ yang tersusun dari beberapa rangkai aksara untuk kemudian terbaca.
Bagian terbaiknya adalah, aku akan tetap membiarkan setiap pasang mata yang membaca akan mengimajinasikanmu liar begitu saja, seperti apa yang terekam di memori mereka masing-masing.
Itu saja.
Akankah aku tetap cemburu?
Setiap ada orang yang mendekatimu walau sekedar hanya mengucapkan sepatah kalimat?
Seorang wanita sanggup menyembunyikan rasa cintanya berpuluh-puluh tahun. Namun sayang, seorang wanita tak mampu menyembunyikan rasa cemburunya walau hanya sesaat.

Sepuluh = Hidupku


Sepuluh, Angka Sempurna Dalam Hidupku 
Angka sepuluh yang biasa ditulis "10" merupakan angka sempurna. Pada masa duduk di bangku sekolah, angka 10 merupakan nilai sempurna dengan range 0-10. Semua berlomba-lomba untuk mencapai nilai sempurna. Sempurna itu indah. Sempurna itu akan lebih "baik" bila dinyanyikan dengan syukur. Dan ini adalah bentuk pemikiran yang harus aku coba. Sepuluh, Angka Sempurna Dalam Hidupku akan tertuang secara gamblang di sini, di blogku.

SATU: Tuhan itu Esa. Esa itu satu. Aku bersyukur dengan "satu". Matahari juga satu. Apa jadinya kalau matahari lebih dari satu? Segala sesuatu sudah di atur oleh Yang Maha Esa. Sudah di rancang sedemikian rupa dan sudah memberi "yang terbaik" bagi kita, kamu dan aku.

DUA: Aku bersyukur tentang kedua orang tuaku. Mereka adalah dua orang tua yang baik, bahkan sangat baik. Seorang ayah yang benar-benar menjadi "ayah" dan seorang ibu yang benar-benar menjadi "ibu". Keluarga kami sangat bahagia. Mereka mengajari kami, anak-anaknya, dengan sangat baik sehingga kami bisa tumbuh dengan "baik".

TIGA: Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Aku sangat amat mensyukuri hal ini. Aku selalu merasa tidak kesepian, itu berkat adanya saudara-saudara kandungku.

EMPAT: Menyanyi, melukis, memasak dan menulis adalah empat talenta yang luar biasa yang Tuhan berikan kepadaku. Aku tidak pernah berpikir bahwa aku bisa menyanyi, ditambah lagi aku bisa dibilang pintar menggambar dan melukis oleh teman-temanku. Tentang memasak, aku tidak pernah mengikuti kursus memasak, aku bisa memasak karena ini turun dari mamahku. Keajaiban yang sempurna dalam hidupku. Rupanya Tuhan masih mau memberikan aku satu talenta lagi, menulis. Wow, awalanya aku sempat ragu. Menulis? Apa aku bisa? Aku bukan tidak bisa menulis tetapi hanya belum bisa menulis, dan saat ini aku masih belajar menulis. Empat karunia yang istimewa. Thanks God.

LIMA: Aku bersyukur telah diciptakan oleh Tuhan dengan sempurna. Lima panca indera yang membuatku tak pernah berhenti bersyukur. Salah satunya adalah mata, "Mata adalah jendela dunia". Aku masih dapat membuka mata dan melihat apapun hari ini. Aku dapat membaca renungan pagi, aku dapat berjalan ke kamar mandi, aku dapat pergi ke sekolah, dan aku dapat melihat huruf-huruf pada keyboard dan mengetikkan kata-kata pada blogku.

ENAM: Aku mencoba mengingat-ingat masa lalu. Enam tahun lamanya aku duduk di bangku sekolah dasar. Waktu yang sangat lama, tetapi cukup. Di sanalah aku mulai mengenal huruf dan angka dengan baik. Aku dapat belajar membaca dan berhitung. Yang paling luar biasa adalah Ibu Guru yang dengan sabar mengajari kami (aku dan teman-temanku). Dapat aku ambil kesimpulan tentang Guru-Guru itu, "Jika kita sabar dan telaten, maka hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin". Kami (aku dan teman-temanku) dulu adalah "bodoh" tak mengenal huruf dan angka, tapi dengan kesabaran dan ketelatenan, kami pun bisa menjadi orang yang berguna saat ini.

TUJUH: Ingat angka tujuh, maka aku ingat 7 hari dalam seminggu. Tujuh hari dengan berkat yang selalu baru setiap pagi. Senin, Selasa, Rabu, Kamis , Jumat, Sabtu, dan Minggu adalah hari-hari yang sangat luar biasa. Pernahkah kita berpikir bahwa, bila tidak ada hari kemarin, maka apa yang akan terjadi pada kita pada hari ini? Aku bersyukur dengan adanya hari-hari itu. Aku bersyukur masih bisa menikmati 7 hari dalam seminggu.

DELAPAN: Perubahan besar dalam hidupku terjadi delapan bulan yang lalu. Puncak dari suatu kesulitan dimana aku harus mendewasakan diri demi arah hidup yang lebih baik. Dimana itu adalah bulan ulang tahunku ke yang 17 tahun.

SEMBILAN: Kira-kira apa yang Tuhan lakukan padaku selama dalam kandungan ya? Sembilan bulan lamanya aku berada di dalam perut ibuku. Apakah pada saat-saat itu, aku bisa dengan bebas bertemu dengan Tuhanku? Aku begitu leluasa bercakap-cakap dengan-Nya. Aku bersyukur pernah berada di dalam rahim seorang ibu. Bila tida melewati rahim itu, maka aku tidak akan pernah ada di dunia ini.

SEPULUH: Bilal, Diot, Seho, Pute, Ndahe, Riris, Mahdes, Seter, Mahmud, dan Seni. Mereka ada sepuluh orang-orang terbaik dalam hidupku. Mereka lebih dari sahabat. Mereka adalah bagian dari hidupku. Dan mereka adalah orang-orang yang sangat "Luar Biasa". Terutama dia. Ya, dia adalah Bilal. Sosok yang mengajarkanku apa sebenarnya arti hidup dalam kesederhanaan dan apa adanya. Juga sepuluh adalah dimana angka yang mempertemukanku dengan Bilal. Aku bersyukur pada Tuhan tentang mereka, sepuluh orang-orang terbaik dalam hidupku. Aku sudah bosan mengatakan ini, mengatakan bahwa aku sangat menyayangi mereka sebagaimana aku menyayangi semua keluargaku dan menyayangi-Nya.

kamu, perjalananku


aku mengerti bahwa hidup itu tidak mudah
aku mengerti bahwa hidup tak pernah luput dari masalah
tapi yang aku tahu, kau begitu kuat melewati semuanya
yang aku tahu, kau selalu mendapatkan semuanya
aku belajar banyak hal darimu
kau tak pernah takut terhadap apapun
kau selalu melangkah dengan pasti
aku bangga kepadamu
kamu, "imanku"

kamu bilang hidup ini sangat mudah
kamu bilang hidup ini indah
mana mungkin?
banyak kegagalan yang aku jumpai
banyak orang berkata, "aku menyerah"
aku selalu melihatmu penuh dengan semangat
kamu memiliki semboyan, "jangan menyerah!"
kamu selalu melihat dengan tatapan yang positif
aku bangga kepadamu
kamu, "harapanku"

kali ini sangat luar biasa
kamu berbeda
kamu istimewa
kamu mampu menutupi segala sesuatu
kamu mampu mengampuni
mengampuni orang-orang yang melukaimu
orang-orang yang telah mencabik-cabik hidupmu
orang-orang yang telah meludahimu
kamu memiliki semua sifat dan sikap positif
kamu begitu tulus
kamu seperti merpati
aku ingin sepertimu
dengan iman aku yakin bisa menjadi sepertimu
dengan pengharapan aku tak akan pernah berhenti untuk mencoba menjadi merpati sepertimu
aku bangga kepadamu
kamu, "kasih"

Jumat, 01 Februari 2013

Bilal..


Sejak ada kamu, malamku bukan lagi hening panjang yang membosankan.
karena kamu.. aku jadi sadar, sudah banyak aku membuang bahagia.
buktinya, sekarang bahagia terlalu mudah jadi nyata.

kamu bernyanyi, aku tertawa. Padahal, kamu menyanyikan kesedihan.

habis... suaramu yang melengking tak karuankan itu hiburan musikal.
kamu tertidur pun, aku bisa tersenyum..
iya, muka polos kamu.. lebih lucu dari badut sih..

memikirkanmu? ah, itu sih cara lain Tuhan agar aku senyum-senyum sendiri.

lucu ya cinta.. ah, tunggu..
yang lucu itu kamu, senang rasanya memilikimu.
kadang, kamu memang menyebalkan.
tapi, sebelum semua hal ini ada.. aku kan hanya berteman hening?
ah, bersyukur aku ada kamu.

Sejak ada kamu... hal yang sebelum ini tak kuperhatikan pun..

jadi hal yang paling berkesan..
Sejak ada kamu, tertawa itu hal biasa..
Sejak ada kamu, bahagia itu mudah..
Sejak ada kamu, iya, kamu...